Belajar Bersama

Belajar Bersama. Frasa ini mungkin sering sekali kita dengar. Tak terlalu istimewa jika dilihat secara bahasa, namun andai kita melakukannya dalam rangka mengatasi kendala-kendala pendidikan, kegiatan belajar bersama akan sangat membantu dan bahkan bisa menciptakan sebuah lompatan belajar yang cukup mencengangkan.

Mereka yang tertarik dengan pendidikan mandiri – tanpa sekolah akan merasakan manfaat belajar bersama pada banyak segi: Sisi finansial untuk mengupah guru, resources (bahan-bahan), sosialisasi, kegembiraan, dan juga persahabatan yang sehat. Bahkan beberapa mata pelajaran non eksakta bisa dipelajari bersama tanpa guru pembimbing.

Dulu di era revolusi industri, pendidikan digiring untuk memenuhi kebutuhan dunia industri, namun kini pendidikan justru telah menjadi salah satu sektor industri. Tanpa sadar hal ini telah menimbulkan degradasi dalam memandang pendidikan. Motif orang untuk mengenyam pendidikan berakhir pada ‘bagaimana agar saya mendapat pekerjaan’ dan ‘bagaimana agar anak-anak saya juga bisa sekolah untuk dapat pekerjaan’. Sungguh sebuah lingkaran tak berujung. Tentu tidak sepenuhnya salah jika kita berharap mendapat pekerjaan, tapi hakikat berpendidikan semestinya jauh dari sekedar itu.

Ada nilai-nilai yang justru menghilang dari dunia pendidikan, yaitu integritas, kepedulian, kejujuran, keadilan, dan sikap ksatria. Yang ingin nilai 9 tak malu untuk menyontek, yang nggak bisa bayar SPP justru dibuat malu di depan orang banyak. Orang yang banyak uang bisa bersekolah di tempat yang mewah dan berfasilitas lengkap, sementara orang miskin bahkan tak bisa menginjakkan kakinya di halaman sekolah.

Belajar bersama adalah perpanjangan dari semangat gotong royong-nya orang-orang dulu. Betapa banyak kebutuhan kolektif yang terpenuhi dengan bergotong royong: Membuat rumah, membangun jembatan, membuat saluran air, dan lain-lain. Semua menjadi lebih ringan dengan kebersamaan.

Jika di sekolah tiap anak harus membeli semua buku paket, sehingga anggaran buku saja jadi membengkak. Dengan belajar bersama, pembelian buku paket bisa dibagi dengan sejumlah anak. 10 buku misalnya, jika dibagi 5 anak, maka kewajiban beli buku per orangnya hanya 2 buah. Tentu akan sangat jauh lebih ringan dibandingkan harus membeli 10 sekaligus. Kalau harga per buku adalah Rp. 20.000 saja maka pembagian itu akan menghemat hingga Rp. 160.000 per anak. Betapa terbantunya para orang tua dari kalangan buruh atau tukang becak, yang penghasilan hariannya mungkin tak lebih dari 30 ribu rupiah.

Semangat berbagi dan empati nampaknya mulai menghilang sedikit demi sedikit. Meski tak semua, guru jaman sekarang bahkan bisa dengan mudah berkata, “Guru juga manusia. Manusia butuh uang”. Hal itu merupakan apologi ketika mereka membisniskan penjualan buku paket atau membisniskan bimbingan belajar.

Saya ingat sekali, ketika dulu saya susah payah mengerti pelajaran matematika kelas 1 SMA hanya karena gurunya tidak membahas secara detail setiap materi yang diajarkan di kelas. Sementara beberapa orang tertentu dengan mudah menyelesaikan PR karena ternyata mereka dapat les tambahan di lembaga bimbel, bahkan oleh guru yang sama.

Semua ternyata berujung pada integritas dan kepedulian yang kian melemah. Kehausan akan nilai-nilai kebanggaan semu lebih dominan daripada sikap ksatria. Hal itu juga merupakan cermin tentang diabaikannya nilai-nilai ketuhanan dalam pendidikan. Agama yang tersisa hanyalah ibadah ritual, selebihnya manusia menjalankan kegiatan hidupnya hanya dipandu insting, termasuk di dalamnya keserakahan akan uang dan kekuasaan.

Homeschooling (HS), yang kini sedang menjadi trend, akan berimplikasi positif jika di dalamnya hidup semangat kebersamaan ini. Orang tua yang berniat meng-homeschooling-kan anaknya tak perlu harus bergabung dengan lembaga HS berorientasi profit, jika ternyata dana yang dimiliki tidak bisa menjangkau standar biaya yang ditetapkan lembaga-lembaga tersebut.

Setiap orang tua memiliki potensi untuk menjadi pembimbing bagi anak-anaknya. Bukan untuk membuat anak-anak hafal perkalian ataupun hafal nama-nama pahlawan, tetapi untuk menumbuhkan semangat belajar mereka dan menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketuhanan ke dalam hati mereka. Carilah kawan yang juga berniat untuk HS, dan belajarlah bersama-sama untuk berbagi bahan dan juga kearifan.

HS justru menjadi sarana paling pas untuk mempraktekkan kembali semangat kebersamaan, empati, dan gotong royong yang dulu menjadi kebanggaan bangsa ini, yang dulu begitu diandalkan untuk membebaskan diri dari para penjajah asing, yang dulu menjadi pemersatu berbagai suku bangsa, yang dulu dan kini mampu menghapus air mata para dhuafa yang kelaparan, yang dulu dan juga kini mampu membuat anak-anak tersenyum meski mereka tidak berada dalam kelapangan materil.

Belajar Bersama? Selamat mencoba.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *