Belajar Bersyukur, Menguatkan Karakter Anak

Bersyukur, bukanlah sekadar ucapan di mulut, melainkan kesadaran dalam hati bahwa potensi/karunia yang diberikan Allah adalah sesuatu yang berharga, sehingga lahirlah sikap-sikap mulia mengiringinya.

Tidak sedikit anak yang begitu cepat bosan dengan benda-benda yang mereka punya dan menyia-nyiakannya tanpa rasa bersalah. Orang tua pun terbagi dua dalam menyikapinya. Sebagian membiarkan hal itu berlanjut dan terus memenuhi keinginan anak berikutnya meski dengan konsekuensi yang sama, namun sebagian lagi berusaha mengubahnya, karena menganggap bahwa hal itu bukanlah kebiasaan khas anak-anak yang pantas untuk dibiarkan apa adanya. Jika orang tua luput memberi mereka sentuhan pengajaran bersyukur, maka sebanyak apapun benda dan karunia yang anak-anak peroleh, mereka tak akan pernah menghargainya.

Sampai anak-anak memasuki usia balita, sebenarnya terjadi proses alami yang besar, yaitu mencerna dan menyerap prinsip-prinsip hidup meski dalam level yang sederhana. Dan banyak di antara kita sering tak menyadari bahwa anak-anak mempelajari semua itu dari kebiasaan hidup orang tuanya.

Tanpa penanaman nilai dengan sengaja, anak-anak bisa menyimpan dan menjadikan karakter ‘tak bersyukur’ hingga masa remaja dan bahkan dewasa mereka. Terlebih saat ini anak-anak berada pada masa bergelut dengan konsumerisme. Serbuan ajaran konsumtif dari televisi membuat pergaulan dengan teman-teman sebaya tak lagi mudah. Mereka ditarik-tarik untuk meniru, saling bersaing dalam kepemilikan benda-benda fisik, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan aktualisasi dan eksistensi diri secara salah kaprah.

Oleh karena itu, manfaatkan setiap momentum bersama anak untuk mengajarkan syukur, terutama dengan contoh dari diri kita sendiri. Obrolan kecil di saat senggang dengan mereka, saat mereka sedang merasa aman ditemani orang tua, bisa bergelayut manja dan bebas bicara, adalah salah satunya. Saat itulah anak-anak bisa diajak mengamati sekitar, mengingat-ingat anugerah yang sudah mereka dapatkan, membandingkannya jika hal itu hilang, dan membandingkannya dengan teman-temannya yang mungkin tidak memilikinya. Ajak mereka ber-‘hamdalah’ atas semua karunia itu karena hakikatnya, Dia-lah Allah yang telah memberi karunia tersebut.

Bersyukur, bukanlah sekadar ucapan di mulut, melainkan kesadaran dalam hati bahwa potensi/karunia yang diberikan Allah adalah sesuatu yang berharga. Dan hal itu sering memberi keajaiban. Kreativitas bahkan bisa tergali karena manusia tidak mempedulikan kekurangan yang mereka miliki, melainkan fokus pada kekuatan/potensi yang mereka punya dan menggalinya dengan gigih. Itulah tanda syukur.

Bersyukur juga bisa menahan potensi jiwa yang serakah dan ingin menguasai segalanya. Dari situlah lahir empati dan peduli sesama. Orang-orang yang besyukur akan selalu ingin berbagi tanpa pamrih, karena mereka merasa karunia Allah itu berlimpah dan jadi tak berguna jika hanya dinikmati sendirian.

Pengeluh, penggerutu, ingin serba cepat dan instan bukanlah sikap seorang yang pandai bersyukur. Dalam teori-teori kepribadian modern pun sudah banyak diungkapkan bagaimana sikap-sikap negatif malah membunuh kreativitas dan menghambat kemajuan.

Jadi, mari sama-sama membekali anak dari rumah mentalitas bersyukur, agar mereka tangguh dan mandiri menghadapi tantangan sekitar yang luar biasa besarnya. Bersyukur adalah kekuatan manusia menghadapi bisikan negatif yang bersumber syaitan. Karena itulah ‘bersyukur’ merupakan pelajaran penting setiap hari yang tak boleh dilewatkan.

Dalam Q.S Ibrahim : 7, Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *