Pendidikan Anak Usia Dini >> Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini

oleh: Maya A. Pujiati

MAU IKUT PELATIHAN MENULIS
dan JURNALISTIK? KAMI KIRIM
BROSUR KE EMAIL ANDA 
Nama
E-mail Address
Instansi/Perusahaan
No Telp/HP
Masukkan Code di bawah ini.

DAPATKAN EBOOK KAMI, “PERNAK_PERNIK BELAJAR MEMBACA: INSPIRASI BAGI ORANG TUA DALAM MENSTIMULASI ANAK BALITA MENJADI SUKA DAN BISA MEMBACA DENGAN CARA YANG MENYENANGKAN. BELI DAN DOWNLOAD DISINI!

Bisa membaca di usia dini memang bukanlah segalanya, namun membuat anak-anak senang dengan buku dan kegiatan membaca sedari kecil bukanlah langkah yang sia-sia. Jika  kebiasaan membaca sudah terbentuk, tak jarang, keinginan untuk belajar membaca pun muncul dari diri mereka sendiri.

Kontroversi tentang belajar membaca untuk anak usia dini memang tetap ada. Beberapa pihak bahkan melarang orang tua atau guru untuk mengajarkan keterampilan membaca pada usia dini, dengan alasan takut anak-anak jadi terbebani, sehingga mereka menjadi benci dengan kata “belajar”.

Namun sejauh pengalaman saya, selama prinsip belajar ‘fun’ yang dikembangkan, materi apapun yang diajarkan kepada anak usia dini selalu direspon dengan baik dan anak-anak suka untuk belajar.

Mengajak anak-anak untuk belajar membaca menurut saya jauh lebih baik daripada membiarkan mereka menonton TV seharian. Tanpa kita sadari sesungguhnya anak-anak juga belajar sesuatu lewat TV, yang sayangnya lebih banyak berupa hal-hal negatif daripada hal-hal yang positif.

Seputar metode belajar
Metode mengajar balita membaca sangatlah beragam. Karena begitu beragamnya, lagi-lagi kita akan menemukan perbedaan dasar pemikiran dari metode-metode tersebut. Meskipun kadang-kadang sering mencuat pertentangan yang tajam antar berbagai metode, kita tak perlu bingung. Kenali saja semuanya lalu sesuaikan dengan gaya belajar anak-anak kita.

Berdasarkan telaah saya, sejauh ini di dunia belajar ini dikenal 2 metode besar, yaitu metode terstruktur dan metode tidak terstruktur (acak). Keduanya tidak lebih baik atau lebih jelek dari yang lainnya. Metode terstruktur dan tidak terstruktur (acak) bisa saling melengkapi sesuai karakter dua belahan sisi otak kita yang kini populer dengan istilah otak kiri dan otak kanan.

Otak kiri memiliki karakteristik yang teratur, runut (sistematis), analitis, logis, dan karakter-karakter terstruktur lainnya. Kita membutuhkan kerja otak kiri ini untuk menyelesaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan data, angka, urutan, dan logika.

Adapun karakteristik otak kanan berhubungan dengan rima, irama, musik, gambar, dan imajinasi. Aktivitas kreatif muncul atas hasil kerja otak kanan.

Melalui deskripsi tentang karakteristik dua belahan otak tersebut, kita tentu bisa melihat bahwa keduanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan kita, dan anak-anak bisa disentuh dengan metode yang mengaktifkan keduanya.

Selain metode belajar, karakteristik anak-anak juga perlu kita kenali dan pahami agar kita bisa membangkitkan minat belajar mereka dengan cara yang sesuai.

Beberapa karakteristik anak secara umum adalah sebagai berikut:
1. Konsentrasi lebih pendek (relatif)
2. Tidak suka diatur/dipaksa
3. Tidak suka dites

Ketiga ciri tersebut jelas menunjukkan kepada kita bahwa menstimulasi ataupun mengajar balita membaca tak bisa dilakukan dengan cara-cara orang dewasa. Kita membutuhkan cara yang lebih bervariasi dan adaptif terhadap kecenderungan anak-anak. Dan hanya satu kegiatan yang bisa memfasilitasi 3 karakteristik di atas yaitu BERMAIN.

Mengapa harus bermain? Karena dalam bermain anak-anak tidak menemukan tes, paksaan, dan batas waktu. Ketika bermainlah anak-anak menemukan kebebasan dirinya untuk berekspresi. Ketika bermain pula mereka menemukan kesenangan mereka, dan pada saat seperti itulah kegiatan belajar justru menjadi sangat efektif.

DAPATKAN BUKU DAN CD CARA KREATIF MENGAJAR ANAK BALITA MEMBACA. INFO LENGKAP DISINI!

Salam pendidikan!

Tags: , , , , , , , , , ,

7 Responses to “Pendidikan Anak Usia Dini >> Belajar Membaca untuk Anak Usia Dini”

  1. tedy Says:

    Dahsyat..!!!!! suatu ilmu yang sangat bermanfaat dan membantu kita sebagai orangtua semoga bisa saya terapkan dalm mendidik buahhatiku!!…maju terus pantang menyerah teu nyambung?? he..hee

  2. online Says:

    membaca seluruh blog, cukup bagus

  3. nining Says:

    saya sangat suka n puas dengan artikel ini, saya pikir sangat berguna untuk menunjang profesi saya (guru TK ). thanks ya………

  4. Umi Khalil Says:

    Alhamdulillah sudah saya terapkan metode belajar model Glen Doman, sejak anak laki-laki pertama saya berusia 4 bulan. Alhamdulillah perkembangannya lumayan bagus. Sekarang telah berusia 8 bulan, sudah belajar duduk, berdiri dan juga telah tumbuh gigi. Jika sedang belajar dia memperhatikan dengan seksama, jika sudah mulai bosan, kami orang tua akan berhenti, kami lakukan pola belajar sambil bermain. Saat dia suka saja.
    Salam hangat,
    Umi Khalil

  5. diah Says:

    perlu dicermati juga kebermaknaan kegiatan membaca utk anak usia dini.apakah anak memang memahami makna apa yang dibacanya {setelah “belajar” membaca} ataukah hanya euforia orangtua yg bangga bila anaknya sdh bisa membaca di usia sangat sangat dini..yah..hendaknya orangtua bijak “mengajarkan” anaknya membaca d usia sangat sangat dini,agar anak tetap menjadikan baca sbg kegiatan yg dicintainya..bukan malah sebaliknya..ok?

  6. Bram Says:

    Wah…,artikelnya sangat bagus, dan banyak menambah wawasan dan pengetahuan seputar dunia anak. Trimakasih ya…!

  7. zul Says:

    belajar dengan cara multi metode adalah yg paling fleksibel dan menyenangkan