Hegemoni Nilai Melalui Produk Berorientasi Anak
oleh: Maya A. Pujiati
Hal itu adalah gambaran, betapa kuatnya dampak stimulasi yang dilakukan konsisten pada anak-anak. Meskipun hanya sebuah kebiasaan kecil, misalnya cara makan dan memilih makanan, cara berpakaian, cara menyikat gigi, cara memilih bacaan, atau memilih jenis tontonan, jika dilakukan secara terus-menerus maka lambat tapi pasti akan menjadi kebiasaan mereka yang melekat hingga dewasa.
Mengingat hal tersebut, maka tidaklah berlebihan jika orang tua semestinya menjadi sangat memperhatikan apa-apa yang dicerna oleh anak-anak, baik makanan fisik maupun makanan akal, baik yang sengaja diberikan maupun yang tidak sengaja terpapar dari lingkungan sekitar.
Anak-anak balita belum bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Mereka membutuhkan orang tua untuk memilihkan input yang baik dan menyingkirkan input-input ‘sampah’ yang mungkin meracuni.
Satu hal yang perlu disadari, pembuatan produk-produk yang merusak nilai bukanlah sebuah kebetulan. Hal itu adalah bagian dari upaya-upaya syaitan untuk menyesatkan manusia. Dan shaitan menjadikan segelintir manusia yang menyukai kemunkaran sebagai “agen” untuk menyebarkan kerusakan tersebut melalui berbagai cara dan media. Itulah contoh proses *hegemoni.
Adapun teori tentang belajar yang berkembang akhir-akhir ini mengingatkan kita, bahwa pintu masuk yang efektif untuk mentransfer pengetahuan adalah segala sesuatu yang paling digandrungi (dan bagi anak-anak masa kini, nampaknya mainan, film, dan media audio-visual masih jadi urutan teratas favorit mereka). Hal itu sepertinya sangat dipahami para penyebar keburukan dan semestinya juga disadari oleh para kreatif yang lurus. Lewat sesuatu yang disukai, sebuah produk akan digunakan berulang-ulang dan saat itulah terjadi proses stimulasi nilai dan kebiasaan secara tidak sengaja.
Sepintas lalu, film-film yang tokohnya anak-anak, dengan cerita dan setting yang menakjubkan bagi anak-anak memang hanya layaknya sebuah film. Namun sesekali cermatilah, beberapa film produksi Barat yang mengenalkan dunia sihir misalnya, di mana tokoh utamanya digambarkan santai saja saat meminum darah hewan atau memakan potongan jari manusia. Tidakkah kita berpikir bahwa sebenarnya ada proses transfer nilai di dalamnya? Dan jika anak-anak begitu sering menonton tayangan semacam itu, lama-lama mereka bisa mengadopsinya dan minimal menjadi permisif dengan perbuatan seperti itu.
Memang untuk sampai pada tahap mencetak paradigma butuh waktu yang tak sebentar, tapi tentunya kita tidak mau, anak-anak kita menjadi sasaran penyebaran pengaruh buruk, sekecil apapun itu. Karena jika dibiarkan, sangat mungkin suatu hari mereka menganggap keburukan sebagai hal biasa, dan hilanglah sikap kritis mereka. Mari peduli!
Catatan:
*Hegemoni adalah upaya kelompok tertentu untuk menguasai kelompok lainnya melalui cara-cara yang halus (tanpa ancaman kekerasan), dan kelompok yang menjadi sasaran tunduk dengan kesadaran (tanpa perlawanan) karena nilai-nilai yang dianut kelompok penguasa sudah tertransfer tanpa sadar dan diterima sebagai kebenaran oleh kelompok sasaran.
Tags:sifat hegemoni hegemoni nilai melalui produk berorientasi anak hagemoni nilai melalui produk berorientasi anak hegemoni adalah PENGERTIAN HEGEMONI PADA PENGASUHAN ANAK PENGERTIAN HEGEMONI PADA ANAK USIA DINI hegemoni untuk makanan mengapakah sifat hegemoni perlu itentang oleh semua pihak hegemoni dampak produk pada anak makalah tentang hegemoni contoh seseorang yang mempunyai sifat hegemoni tapi tidak disadari proses bukan produk pada anak pengaruh makanan terhadap nilai anak usia dini PENGARUH HEGEMONI PADA ANAK USIA DINI pengaruh film pinokio pada anak pengaruh cerita pada karakter anak pengaruh cerita pada anak usia dini pengaruh cerita pada anak teori dampak film anak sifat hegemoni \ sifat hegemoni -masalah seberapa penting nilai pada manusia pengertian produk parenthood and postparenthood seberapa penting mainan seberapa penting anak-anak diberikan mainan produk berorientasi produk dunia anak produk-produk nilai tinggi pengaruh cerita binatang kepada anak-anak
Tags: artikel, film anak, stimulasi anak usia dini


March 21st, 2011 at 3:00 pm
Salam damai n sejahtera Maya, posting yang informative. Kl blh ksh saran, akan lebih baik jika postingnya direkomendasikan di berbagai social directory, feedburner, dsb, agar bs bermanfaat untuk pembaca yang lebih luas, salam kenal, feel good, sukses selalu.
April 1st, 2011 at 3:53 pm
Cerita-cerita untuk anak memang punya problematika yang berbeda. Beberapa problem ini tampaknya terkait dengan perubahan cara orang dewasa berpikir tentang dunia anak.
Saya ingat dulu tidak boleh menonton Kisah Pinokio di televisi karena ibu saya mendengar dari sejawatnya bahwa Pinokio yang “dihidupkan” oleh Gepetto pemahatnya, menafikan Tuhan.
Cerita Grimm juga dianggap terlalu brutal dan kejam. Segala yang berkaitan dengan Nenek Sihir juga begitu. Sementara Hans Christian Andersen dianggap sering terlalu melankolis dan depresif bagi anak-anak.
Mengingat fabel-fabel binatang tampaknya lebih dapat diterima oleh banyak pihak, menurut saya, problematika cerita untuk anak dimulai dari kompleksnya karakter manusia yang jelas lebih kaya sekaligus rumit dibanding binatang, yang ingin dikenalkan oleh penulis kepada pembaca mudanya.
BTW, tulisan yang bagus.:)