Hidup Sederhana
oleh: Maya A. Pujiati
Tak ayal, situasi zaman yang mengubah manusia jadi konsumtif seperti saat ini, membuat hidup sederhana yang disengaja sulit terwujud. Kalaupun seseorang atau sebuah keluarga hidup sederhana, ya karena memang sebegitulah kemampuan finansialnya. Padahal, manakala kita menyengajakan diri untuk hidup sederhana sesungguhnya ada beberapa persoalan penting yang bisa teratasi, di antaranya adalah korupsi dan kesenjangan sosial.
Hidup sederhana bukan berarti hidup bersusah-susah, makan tak bergizi, dan tidak berpendidikan. Hidup sederhana adalah meninggalkan sikap berlebih-lebihan, baik dalam makan, minum, berpakaian. Hidup sederhana adalah aktualisasi dari rasa syukur atas rejeki yang dikaruniakan Tuhan seberapapun adanya, dan membagi kelebihannya untuk kemaslahatan orang lain.
Pendidikan di rumah merupakan ujung tombak penanaman konsep hidup sederhana. Anak-anak yang terbiasa serba mudah mendapatkan apapun yang dinginkannya, meski mungkin bukanlah sesuatu yang benar-benar penting seringkali akan memiliki tolok ukur yang berlebihan terhadap apapun, entah merek pakaian, jenis makanan, restoran, kendaraan, tempat tinggal, sekolah, dan lain-lain. Mereka akan berusaha mendapatkan semua itu meski harus melanggar kepentingan orang lain.
Saya sempat membuka kursus membaca untuk anak usia 3 – 8 tahun. Selain masalah beragamnya karakter dan kemampuan anak-anak, satu hal yang saya cermati adalah interaksi mereka dengan teman-temannya. Tahukah bahwa anak-anak usia 6 tahun sudah mengenal aksi saling pamer dan bisa bertengkar gara-gara semua itu, entah penghapusnya, bukunya, pensilnya, dan lain-lain.
Saya percaya kesederhanaan akan mengubah semua fenomena itu menjadi sebaliknya. Jika sedari kecil anak-anak dibiasakan untuk tidak memandang atribut-atribut kemewahan sebagai hal yang penting, maka Insya Allah mereka akan lebih bisa lentur dalam kehidupan. Sepeda jelek tak bermerek, asalkan masih bisa jalan ya senang saja. Meski pergi ke mana-mana selalu naik angkot atau berdesakan di atas bis kota, ya nikmati saja. Walau pakai sandal harga 10 ribu dan celana atau baju 5 ribuan, asalkan bisa mengalasi kaki dan menutup tubuhnya anak-anak akan tetap tersenyum gembira.
Semuanya mungkin terjadi hanya jika orang tuanya menerapkan hidup sederhana dan tak mempedulikan strata sosial terhadap apapun yang dimilikinya. Kalau dibuat jenjang kelas untuk semua benda, maka tentulah akan muncul kategori murah, mahal, dan mewah. Sekolah mewah lebih bergengsi daripada sekolah murah, buku baru yang masih berlabel lebih keren daripada buku bekas yang belinya di loakan, dan lain-lain.
Buat saya yang memang tidak biasa hidup mewah sedari dulu, seringkali tak mengira bahwa ada orang yang memiliki standar yang begitu tinggi bahkan untuk sebuah merek sandal atau sepatu. Tapi, ternyata hal itu terjadi di banyak tempat dan di semua strata sosial. Ya, mungkin karena zaman memang telah jauh berubah. Bagaimana dengan Anda?
Tags:hidup sederhana bagaimana hidup sederhana pola hidup sederhana DI SEKOLAH HIDUP SEDERHANA DI SEKOLAH pebisnis sukses yang menerapkan pola hidup sederhana konsep hidup sederhana hidupsederhana sukses karena hidup sederhana orang sukses yang menerapkan pola hidup sederhana orang sukses menerapakan hidup sederhana menerapkan hidup sederhana pada anak Menerapkan pola hidup sederhana strata hidup seseorang yang hidup sederhana Menerapkan pola hidup sederhana dalam kehidupan keluarga menerapkan pola hidup sederhana pada anak mengatasi terbiasa hidup mewah merk sepatu anak tk di surabaya pengertian sederhana tentang tanaman obat penanaman kesederhanaan di sekolah menerapkan hidup sederhana mendidik anak untuk hidup sederhana membaca benda berlabel pada anak usia dini buku-buku tentang penerapan pola hidup sederhana di sekolah cara hidup sederhana kelas 6 cara mengatasi anak usia paud bertengkar dengn teman contoh hidup sederhana di sekolah contoh sikap hidup sederhana di sekolah gara hidup sederhana guru harus menerapkan pola hidup sederhana


December 2nd, 2009 at 2:01 am
benar sekali, mbak. anak saya, 5 th, sekolah di tk. di sana ada salah satu anak kelas lain yang sepatunya sama dengan anak saya. persis. anak saya senang sekali, “wah.. sepatunya sama, bu..” katanya. mereka lalu main bersama. nah, pas pulang sekolah, ibu si anak tadi melihat bahwa sepatu anaknya sama seperti sepatu anak saya. kebetulan ibu tadi sedang duduk-duduk dengan ibu-ibu yang lain, dan kebetulan saya tidak seberapa mengenal mereka. hanya tegur sapa saja. yang saya dengar sekilas sambil lewat, salah satu ibu di sana berkata, ” beliin sepatu di surabaya aja, biar nggak ada yang sama..” .. dan, ternyata, esoknya, si anak tadi tidak pernah memakai sepatu yang sama dengan sepatu anak saya…
. persahabatan yang baru terjalin gara-gara sepatu yang sama pun putus begitu saja. saya yakin, kalau aslinya anak-anak, pasti senang jika memiliki benda yang sama dengan temannya. anak-anak belum kenal gengsi. orang tuanya yang “mengajarkan”nya. padahal itu nanti justru membuat oarang tua kerepotan sendiri menghadapi kemauan anak.