Kekuatan Poster untuk Media Belajar

oleh: Maya A. Pujiati

Media audio-visual sebagai sarana belajar mengalami pertumbuhan pesat. Orang memang sudah semakin jauh beralih ke media tersebut untuk mengajarkan apapun. Televisi dan teknologi compact disc memungkinkan setiap orang untuk mengeksplorasi pengetahuan tanpa harus terlalu lelah bekerja. Lalu bagaimana dengan poster?

Poster memang sudah mulai banyak dipakai orang untuk menyajikan pelajaran. Namun umumnya poster akhirnya hanya jadi pajangan penghias ruangan. Fungsi poster sebagai media belajar tak mampu tercapai karena faktor-faktor khusus sebuah “poster belajar” tidak terpenuhi (kriteria poster belajar hasil evaluasi saya: tunggu pada postingan berikutnya).

Sifat poster yang statis sebenarnya memiliki kelebihan dibandingkan media elektronik yang menyajikan gambar bergerak. Karena sifat statisnya, poster yang ditempel di dinding akan memungkinkan anak-anak untuk melihatnya sesering mungkin tanpa harus menyalakan komputer atau televisi.

Satu hal yang paling penting, poster yang dirancang dalam ukuran yang tepat memungkinkan setiap anak untuk belajar dengan mengaktifkan otak bawah sadar mereka. Kita tentu sudah pernah mendengar tentang betapa efektifnya belajar dengan kekuatan otak bawah sadar.

Otak bawah sadar mencerna informasi dengan system kerja otak kanan, di mana setiap informasi masuk tanpa melalui proses menyaring. Semua mengalir masuk tanpa beban. Berbeda dengan otak sadar, yang diyakini membawa sifat-sifat otak kiri yang cenderung melakukan pemilahan atau penyaringan informasi karena sifat kritisnya.

Anak-anak dan orang dewasa sama dalam satu hal, yaitu lebih efektif belajar jika pelajaran disajikan secara menyenangkan atau memanggil sensor otak kanannya ketimbang dengan metode yang membosankan. Sayangnya, kegiatan belajar di sekolah formal justru disajikan kepada anak-anak sebagai sesuatu yang berat, penuh dengan beban.

Banyak orang tua juga ternyata menganggap anak-anak balita itu malas kalau diajak belajar hanya karena anak kurang konsentrasi atau cepat bosan. Padahal dengan metode yang tepat ternyata anak-anak bisa belajar melampaui dugaan kita, salah satunya dengan menyulap bahan ajar menjadi poster.

Anak saya Azkia mulai belajar membaca pada usia 2,5 tahun mempergunakan metode Glenn Doman. Kelemahan saya adalah lupa. Jadi, penyajian kata seringkali bolong-bolong —tidak kontinyu. Oleh karena itu saya berpikir tentang poster.

Saya coba tempelkan kartu-kartu ala Doman di dinding berbaris ke bawah. Dengan begitu saya bisa lebih mudah mengingat “tugas” membacakan kata. Hasilnya? Menakjubkan! Azkia ternyata bisa belajar cepat.

Lalu metode itu saya pakai juga buat mensuplai pelajaran lain, seperti kosa kata bahasa Inggris dan Arab.

Saya malah yakin, bahwa hampir semua pelajaran tekstual bisa ditransfer lewat poster . Anak-anak tidak terbebani dan orang tua yang sering lupa seperti saya juga terbantu untuk mengingat materi yang sedang diajarkan.

Tags: ,

5 Responses to “Kekuatan Poster untuk Media Belajar”

  1. heni prasetyorini Says:

    waaah yang ini setuju banget mbak. pas Aldo kelas 1 kemarin saya rajin menuliskan kosa kata dan saya tempel di dinding. beranjak kelas 2, saya pikir itu tidak perlu lagi. eh terasa beda motivasi anaknya. jadi kemgarin kepikiran untuk menggalakkan poster lagi. plus untuk menstimulasi Aji untuk suka membaca. salam parenting

  2. SekolahVirtual Says:

    Mohon izin, Bisakah artikel bagus ini di terbitkan ulang di Pusat Sumber Belajar dan Dokumentasi Pendidikan SekolahVirtual http://www.SekolahVirtual.or.id. Kami akan tetap menyampaikan tautan balik ke situs ini dan tetap menghargai hak intelektual yang melekat pada artikel ini.
    Terimakasih.

  3. maya Says:

    @Sekolah Virtual: Silakan :)

  4. Riva Says:

    Saya setuju bgt dengan Mbak Maya.. Krn sudah terbukti dgn anak saya Zhafif. 3,7 th. Saya pasang macam2 poster sejak bayi walaupun belum bisa apapun. Dari poster doa2 utk @ kegiatan, binatang, alfabet, huruf hijaiyah dan peta dunia. Saya bergantian membacakannya dan Alhamdulillah sekarang Zhafif sudah bisa membaca di usia 3,3 th. Ttg membaca dgn metode glen doman, itu jg sangat efektif selain di flash dan juga ditempel di objeknya misalnya tempel tulisan pintu di pintu. Semuanya itu dilakukan sambil bermain dan tidak ada paksaan sama sekali. Malahan sering meminta sendiri n ibunya suka capek or malas :) ). Sekarang Zhafif senang membacakan buku n ngeflash kartu utk ayah n ibunya.. Semoga sharing ini bmanfaat ya…

  5. bu robiah Says:

    saya juga memasang poster di sekolah mupun di rumah tapi anaak-anak cenderung lihat gambarnya aja bukan tulisannya,tapi ketika aku menemukan cara membaca tidak usah dieja anak lebih senang meskipun tanpa gambar karena dah hafal alfabet

Leave a Reply