Membuat Lingkaran Peran

Hari Senin kemarin, saya melihat pemandangan yang sedikit menyentuh. Dari angkot yang saya tumpangi, sekilas saya lihat seorang ibu berjalan agak terseok-seok. Sambil menggendong bayi ia diikuti dua anaknya yang lain, yang sudah berseragam SD. Kelihatannya ibu muda itu baru saja menjemput dua anaknya dari sekolah. Saya salut melihatnya. Terlintas dalam pikiran saya, bukan tak mungkin, dibalik wajahnya yang nampak berseri karena make up, sebenarnya si ibu menyimpan kelelahan yang lumayan hebat.

Mengurus bayi adalah pekerjaan yang sudah terbayang seluk-beluknya. Butuh emosi yang sehat, badan yang sehat, dan juga keuangan yang cukup. Belum lagi jika tak punya pembantu, otomatis pekerjaan rumah juga siap menyita waktu. Anak-anak yang sudah sekolah pasti pula harus diperhatikan, entah baju seragamnya, entah pe er-nya, atau juga pertengkaran kecil dengan saudaranya yang lain. Betapa hebat para ibu yang bisa memerankan banyak fungsi sekaligus dengan sabar. Saya sendiri masih harus banyak belajar untuk itu.

Setelah dipikir-pikir, diinginkan ataupun tidak, seorang ibu memang harus punya manajemen waktu yang baik. Ada lingkaran peran yang semuanya harus dimainkan. Menjaga untuk tetap ikhlas menjalankan setiap peran adalah perjuangan yang tak akan pernah ada habisnya. Seorang ibu juga adalah seorang anak dari ibunya, seorang istri dari suaminya, seorang kakak dari adiknya, seorang sahabat dari teman-temannya, seorang karyawan dari bosnya, dan lain sebagainya. Berbahagialah para wanita yang bisa menjalankan semua perannya dengan baik, mampu mengelola waktunya dengan tepat, dan mampu menjaga keikhlasannya sehingga apapun yang dikerjakannya membuat ia tetap bahagia.

Nampaknya mulai hari ini, saya pun harus mulai menggambar lingkaran peran pada secarik kertas, mendefinisikan peran saya dengan jelas, sehingga saya tak terjebak menjadi berlebihan dalam satu peran dan mengabaikan peran lainnya.

Sebuah refleksi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *