Mengajari Anak Membaca: Sebuah Seni
oleh: Maya A. Pujiati
Pengalaman ini bisa jadi tidaklah terlalu istimewa buat Anda, tapi saya pikir tak ada salahnya untuk dibagi, karena bukan tak mungkin ada para bunda atau ayah yang mengalami kesulitan serupa jadi terinspirasi setelah membaca cerita saya ini.
Putera saya Luqman (4,5 tahun) memang berbeda dengan kakaknya – Azkia (6,5 tahun). Pada usia 3,5 tahun Azkia sudah bisa membaca, sedangkan Luqman, di usianya yang mau menjelang 5 tahun masih belum terlihat berminat untuk bisa membaca. Dia memang senang dibacakan buku, tapi saya belum menemukan metode yang tepat, yang membuat dia antusias untuk belajar membaca, dengan metode apapun lah! Entah Glenn Doman, suku kata, atau yang lainnya. Terpenting dia mau secara sukarela tertarik untuk belajar. Beberapa kali saya rancang model belajar untuk anak bungsu saya ini, tapi hasilnya belum memuaskan. Mood dia untuk belajar yang satu ini sepertinya menguap sebelum dimulai.
Nah! Sore ini saya seperti dikejutkan oleh ide kecil yang tiba-tiba melintas. Sambil istirahat sehabis bersih-bersih halaman, saya jadi teringat bahwa anak saya ini sebenarnya gampang mengingat sebuah informasi jika disampaikan secara lisan. Meski ia sangat aktif bergerak, tapi dia mampu menyerap info lisan yang dia dengar. Artinya, dia seorang pembelajar haptik – auditori!
Saya panggil si kecil untuk sekedar bermalas-malasan dan mencoba satu model belajar yang terpikir begitu saja. Saya coba sampaikan pendekatan prinsip suku kata secara lisan tanpa teks terlebih dulu. Saya bilang, “De, kalau B ditambah A dibacanya BA, C ditambah A dibacanya CA, dan D ditambah A jadi DA”. Lalu saya tes dia untuk membaca tiga suku kata itu sekaligus BA CA DA. Entah mengapa dia jadi tertawa.
Langkah berikutnya, saya masuk ke gabungan 3 konsonan di atas dengan vokal i, u, e, dan o. Hasilnya, dia mampu menyerapnya dengan baik. Lalu saya tes dia untuk membunyikan gabungan konsonan baru: F, G, dan H dengan 5 vokal… Hasilnya sungguh mengejutkan saya, karena ternyata dia mampu membacakannya dengan benar. Sungguh, bukan hanya saya yang senang, dia pun tertawa begitu gembira dengan kemampuannya itu.
Karena penasaran, saya pun minta dia mengambil balpoin dan kertas. Duh, dengan semangat si kecil berlari memenuhi permintaan saya. Saya cobakan di atas kertas titian suku kata yang sudah kami pelajari tadi, dengan harapan otaknya terkoneksi dari suara ke visual.
Dan.. subhanallah, kabut yang selama ini menyelimuti pemahamannya seolah mulai terkikis. Dia mengerti dan mulai bisa membaca suku kata yang tertera di atas kertas. Kejutan berikutnya, anak saya bilang setelah selesai belajar, “Mama, Ade lebih suka belajarnya nggak usah pake buku membaca (yang dibeli), ditulis aja pake pulpen sama Mama.”
Nah, lho! Ternyata anak-anak seringkali tak bisa ditebak. Kita pikir dia suka buku bagus yang berwarna-warni, yang sengaja kita beli supaya dia tertarik, eh ternyata dia lebih suka tulisan orang tuanya, meskipun tulisan ayah atau ibunya mungkin jauh dari bagus. Begitulah saya melihat: Mengajar Anak-anak Membutuhkan Seni tersendiri.
Tags:mengajari anak membaca cara mengajari anak membaca mengajarkan anak membaca mengajar anak membaca trik mengajari anak membaca anak membaca ebook membaca metode iqro cache:luEKtP4r4kYJ:duniaparenting com/belajar-membaca-untuk-anak-usia-dini/ CARA MEMBACA USIA PAUD mengajari anak seni belajar membaca mengajar membaca metode iqro -alquran -advertise -dhanisetyo -jevuska -al-quran -al quran anakmembaca MANGAJARI ANAK MEMBACA mengajari anak 4 tahun mengajari si kecil membaca cara mengajari anak usia tiga tahun mengajari anakmembaca mengajar anak membaca suku kata bagaimana mengajari anak belajar kapan mengajari anak membaca Trik dan cara mengajari anak sulit membaca anak 6 tahun tidak berminat membaca bagaimana mengajari anak 4 5 tahun membaca mengajari anak membaca ebook gratis media belajar anak 4-5 tahun cara mengajarkan bersih-bersih untuk AUD mengajari anak 2 tahun membaca mengajari anak membaca usia 4 tahun membaca suku kata membaca tiga suku kata
Tags: mengajari anak membaca


January 24th, 2009 at 8:11 pm
Yup… anak-anak selalu punya dunianya sendiri, dia bukan ‘orang dewasa yang bertubuh kecil’ cara berpikir mereka unik, sangat berbeda dengan cara pikir kita …
May 7th, 2010 at 5:32 am
lho… jangan salah bu, sejelek apapun tulisan ibu, di mata anak paling bagus di seluruh dunia, hehe… is the best pokoknya…. mungkin karena nulisnya penuh cinta… anak pun merasakan getarannya lewat jemari kita. pengalaman pribadi, anak saya juga sama persis spt anak ibu, jd ketawa membacanya, kok sama ya? dengan berbekal “kemahiran” umminya menulis dan menggambar, ahmad yg sekarang 3 th 5 bln sudah hampir lulus iqro’ 2 (padahal menurut umminya tulisan n gambarnya kalah bagus dg yg di buku2, tp sekali lg anak lebih “cinta” produk umminya). tp utk baca latin, belum terlihat minatnya, ato umminya yg blm nemu metode pas kali ya…… saya mau deh cobain trik ibu untuk belajar membaca latin anak saya…