Mitos tentang Belajar

Bertahun-tahun lamanya sejak sekolah lahir, hakikat belajar lambat laun terselubungi mitos-mitos yang mendukung keberadaan institusi tersebut. Apakah itu? Jeanette Vos dalam bukunya yang padat berisi, berjudul The Learning Revolution menuliskan 4 hal, yaitu:

1. Sekolah adalah tempat terbaik untuk belajar
2. Kecerdasan bersifat tetap
3. Pengajaran yang menghasilkan pembelajaran
4. Kita semua belajar dengan gaya yang sama.

Kini, bahkan di sekolah sekalipun, sedikit demi sedikit konsep tentang belajar seperti 4 mitos di atas semakin ditinggalkan. Meski masih “terbata-bata” menerjemahkan paradigma belajar yang lebih menyenangkan, banyak sekolah, khususnya sekolah swasta memberlakukan cara belajar mengajar yang lebih dinamis: Buku pelajaran full color, tempat belajar ditata penuh warna, guru yang bersahabat, metode mengajar berbasis konsep multiple intelligence, dan hal-hal menyenangkan lainnya.

Akan tetapi, ternyata tak semua orang bisa memasuki wilayah belajar senyaman itu, karena kenyamanan yang diperoleh tak bisa dibayar hanya dengan senyuman, melainkan harus dengan merogoh uang jutaan. Sanggupkah?

Terlepas dari sanggup ataupun tidaknya kita mengeluarkan dana jutaan untuk sekolah yang nyaman, saya justru menemukan esensi penting dari semakin gugurnya mitos belajar seperti dikatakan Vos. Menurut saya, sejak jaman dulu, saat sekolah belum se-eksis sekarang, belajar bukanlah pekerjaan, sehingga seseorang yang ingin belajar harus tunduk pada sebuah birokrasi kerja. Belajar adalah kebutuhan hidup yang dengannya manusia bisa menjadi manusia mandiri. Karena itulah, orang seharusnya bisa belajar di manapun mereka menemukan sesuatu yang pantas, yang menarik, atau yang berguna untuk dipelajari.

Bukankah kisah-kisah para pencari ilmu di masa lalu memang lebih seru. Saking menariknya, sampai-sampai bisa dibuat serial cerita pengembaraan berpuluh atau bahkan beratus-ratus episode. Para pencari ilmu mengembara dari satu tempat ke tempat lain, mencari guru-guru yang faqih di bidangnya masing-masing, lalu kembali pulang sembari mengamalkannya di sepanjang perjalanan.

Saya rasa, kini pun hal semacam itu masih relevan dan akan terus relevan sepanjang waktu. Modal pentingnya hanyalah satu, yaitu Semangat untuk Belajar. Tanpa semangat belajar, anak lulusan sekolahan pun acapkali tergagap-gagap melihat realitas hidup, karena sesungguhnya mereka tak boleh berhenti belajar jika berniat mengarungi dunia nyata. Selama anak-anak tak kehabisan semangat belajar, mereka akan terus menjadi pembelajar mandiri di manapun mereka berada, dan mereka Insya Allah akan sanggup menghadapi tantangan hidup.

Masih percaya mitos?

5 thoughts on “Mitos tentang Belajar

  1. ikhwanalim

    kehausan akan ilmu pengetahuan serta kehausan akan mengetahui batas kapasitas diri,

    membuat saya selalu bersemangat untuk belajar, mencoba dan mencoba hal-hal baru sekaligus menguji kapasitas diri

    mudah2an menginspirasi banyak manusia di negara kepulauan ini untuk tidak menghiraukan apa kata orang ketika dia mempelajari sesuatu…

    Reply
  2. suryadi

    ada 2 permasalahan pokok, barkaitan dengan pembelajaran yang sesuai dengan fase perkembangan anak masih sulit untuk berkembang dalam masyarakat kita: 1) birokrasi yg masih memandang pendidikan sebagai komiditas, dan 2) diskursus tentang pendidikan yg masih (termasuk) lambat bergulir.

    ad 1. kita bisa melihat bagaimana politik turut bermain dalam mainstream pendidikan, sehingga pembelajaran ikut terseret masuk terlalu dalam ke ranah politisasi pendidikan. bisa kita ambil satu contoh bagaimana, pemerintah (=diknas) menetapkan UAN sebagai (dulunya) satu ukuran kelulusan siswa tanpa memandang banyak entitas dalam proses pendidikan. dan kita pun dapat melihat dampak ditetapkannya UAN, semua sendi politik ikut bergerak dalam domain yg berbeda. bagi kepala daerah (gubernur, bupati/walikota, kepala dinas pendidikan) UAN (berhasil/gagal) adalah barometer untuk bahan kampanye …….. dst.

    ad 2. mungkin 5 tahun terakhir ini kita semua mengenal multiple intelligence oleh Gardner, sebuah pendekatan pembelajaran yg memanusiakan anak2/siswa/peserta belajar sesuai dengan fase tumbuh-kembang mereka. Knp sedemikian lambat? sebenarnya dasar2 pedagogik sudah dikenal lama oleh para guru kita (yg dulu sekolah di SPG dll) sebut sj model montesori dll. tp berikutnya lagi2 mandeg nya proses pembelajaran para guru kita dikarenakan eksploitasi birokrasi (=politisasi dal dunia pendidikan) sehingga cetak biru birokrasi tentang pendidikan menjadikan guru kita terbelenggu untuk berdiskusi, berwacana atau memberikan gagasan/inisiatif utnuk kemajuan pendidikan.

    Namun kita patut bersyukur, masih banyak orang/pihak2 yg masih mau berpikir menyumbangkan pikiran dan energi untuk kemajuan dunia pendidikan kita. Untuk para guru tetap semangat, dan JANGAN sekali2 tergelincir pada arus politisasi dan kapitalisasi pendidikan yg menjadikan “berkah mendidik/mengajar” jadi pudar karena terlalu dominannya orientasi kapital……..semoga.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *