Pentingnya Mengajarkan Pengendalian Diri

Duh! Memang anak-anak perlu dilatih mengendalikan emosi. Kalau tidak, mereka jadi kesulitan untuk menyelesaikan persoalan secara baik-baik. Melampiaskan kemarahan lewat cara-cara anarkhis pun akhirnya dianggap biasa. Hanya pendidikan yang bisa mengubahnya. Dua cerita berikut ini berasal dari peristiwa nyata yang saya temui. Semoga menjadi pelajaran, menambah kesadaran kita, betapa pentingnya pendidikan karakter bagi anak-anak. Bermula dari rumah.

Peristiwa 1

Suatu hari, seorang anak kecil berlari ketakutan memasuki halaman rumah kami. Anak saya, Luqman, rupanya mengenali anak itu. Luqman menyuruh anak itu masuk.

Tak lama kemudian terdengar keributan kecil. Luqman berteriak, “Eh, jangan ngelempari orang! Nanti kena, lho”. Tak menggubris kata-kata anak saya, 3 anak kecil usia SD kelas 2 itu terus melemparkan batu, pasir, dan tanah ke arah halaman rumah kami, di mana si anak yang ketakutan itu sedang berdiri.

Karena khawatir lemparannya kena, saya keluar untuk melerai. Tak disangka, anak-anak itu langsung berlari ke atas, dan ternyata tetap saja melakukan aksi lempar-melempar dari arah atas kebun kami.

“Anak-anak, jangan melempar lagi ya. Nanti kena, temannya bisa luka,” ujar saya pada mereka, dari balik pagar.

Yang membuat saya terkejut adalah jawaban mereka, “Apa Ibu? Marahin anak orang. Ntar aku bilangin lho ke Bapakku. Aku nggak takut walaupun sama orang tua juga!” teriak salah seorang dari mereka. Aksi melempar pun terus berlanjut.

Wow! Saya terhenyak. Begini ya anak-anak kecil zaman sekarang. Beberapa anak di komplek kami sudah saya kenal karena jadi member taman bacaan di rumah kami, tapi anak-anak itu memang baru hari itu saya lihat.

Setelah dibiarkan sejenak, saya memutar ide. Saya mendekat ke pagar dan bilang, “Mending main aja sini, Yuk!”

Tapi anak-anak itu berteriak, “Ah, aku nggak mau main sama ibu-ibu. Masak ibu-ibu mainnya sama anak-anak?!” Hati saya geli juga mendengar jawaban mereka. Miris sekali.

Saya diam dulu lalu masuk ke rumah. Sayang, ternyata mereka tetap saja melempari kebun kami dengan marahnya.

Merasa nggak sehat dengan kondisi seperti itu, saya mencoba strategi terakhir. Saya kembali ke tepi pagar, “Mending damai aja, yuk! Nggak usah marahan”. Salah seorang anak yang paling dekat dengan pagar sepertinya mulai tersenyum dan berlari malu-malu ke arah temannya. Ia berbisik meneruskan kata-kata saya pada temannya yang berdiri agak jauh.

“Kenalan, yuk! Namamu siapa?” lanjut saya.
“Reza,” katanya pendek. Lalu tak disangka, 2 anak lainnya juga mengenalkan namanya sendiri pada saya.

“Kenapa kalian tadi melempari teman kalian?” tanya saya senetral mungkin.

“Habisnya, dia suka minjem pensil di sekolah dan nggak dibalikin,” kata salah seorang dari mereka

Setelah kemarahan mereka reda, anak-anak itupun berdamai dengan temannya yang tadi dikejar-kejar. Saya menarik napas lega. Alhamdulillah.

Peristiwa 2

Saya sedang memasak di siang terik waktu itu. Samar-samar dari kejauhan terdengar jeritan seorang anak kecil. Saya pikir itu hanya main-main. Karena ada lahan yang masih cukup luas untuk bermain, biasanya banyak anak bermain layangan di belakang rumah saya.

Akan tetapi, lama kelamaan teriakan itu makin keras dan intensif, “Tolooong! Tolooong!”. Saya pun keluar. Masya Allah, saya melihat dari kejauhan, seorang anak sedang dipukuli temannya. Bahkan bukan hanya pukulan, tapi juga tendangan. Anak yang memukul memang lebih besar dari anak yang dipukul, dan meski ada anak-anak lain di situ, semuanya anak-anak kecil. Mungkin tak berani juga untuk melerai.

Saya reflek berteriak, “Eh, jangan dipukuli begitu. Kasihan!” dan beberapa orang tukang bangunan di seberang lapangan juga ikut melerai walau hanya dengan teriakan. Walau sesaat masih memukul, tapi teriakan kami ada pengaruhnya juga. Anak yang dipukul akhirnya bisa berlari menghindar.

Si pemukul yang masih marah, akhirnya menyobek-nyobek layangan, yang sepertinya, milik anak yang dipukuli tadi. Layangan itupun di bawa ke bawah dan ia mengambil batu besar lalu dihempaskan beberapa kali ke arah layangan.

Saya tidak tahu, bisa saja orang tua anak yang dipukuli jadi marah dan mempersoalkan cedera anaknya?

Yang pasti, saya jadi berpikir bahwa tidaklah terlalu aman melepas anak-anak bermain dengan siapa saja sekarang ini. Karena sesungguhnya, meski masih anak-anak, tapi temperamen mereka tidak dijamin sudah mendapat sentuhan pengajaran dan pendidikan.

Meski setiap anak pada dasarnya baik, namun karena daya jangkau kita terbatas hanya pada anak-anak yang kita kenal, maka memang sebaiknya kita-lah yang memilihkan teman buat anak-anak kita. Teman, yang sudah terbukti berakhlak baik dan dijamin tidak akan melukai ataupun memberikan pengaruh buruk pada anak-anak kita.

Kembali. Semuanya adalah pe er untuk dunia pendidikan, khususnya dunia parenting.

One thought on “Pentingnya Mengajarkan Pengendalian Diri

  1. Hendra

    Memang anak sekarang bisa dikatakan super hyper aktif dalam segala hal, apakah ini pengaruh dari media visual atau pengaruh iklim yang katanya bisa merubah watak seseorang. pernah dulu di siarkan oleh salah satu TV swasta dalam hal mendidik anak tak terkecuali anak yang kurang bisa mengendalikan diri yaitu dengan jalan kesabaran dan persahabatan dan pernah saya lakukan dengan anak disekitar rumah mereka juga lebih menghargai dengan jalan itu

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *