Seberapa Penting Menjadi Jenius

“Kejeniusan adalah berpikir dengan cara yang belum pernah dilakukan orang. Orang Jenius mampu melihat sesuatu yang luput dari penglihatan orang lain. Mereka melihat kemungkinan di antara ketidakmungkinan. Mereka bisa menjabarkan paket-paket pengetahuan yang diterimanya dalam cara baru dan produktif.” (Todd Siler)

Definisi jenius yang saya kenal sebelumnya terakumulasikan di dalam sosok Plato, Adam Smith, Thomas Alva Edison, atau Einstein. Tentu sudah terbayang hebatnya orang jenius kalau kita melihat kredibilitas orang-orang tersebut di dalam dunia ilmu pengetahuan. Sayangnya, sekolah memperkenalkan sosok-sosok jenius itu hanya dalam teori-teorinya yang harus dihafal, diujikan, dan pada akhirnya dilupakan. Mengapa bisa dilupakan? Karena metode pengajaran di sekolah tidak mengarahkan siswa kepada pemahaman secara kontekstual, sehingga teori  bisa diaplikasikan di dalam kehidupan sehari-hari.

Adapun apa sesungguhnya kejeniusan para tokoh tersebut nyaris tak terungkap. Akibatnya, kejeniusan begitu mengawang, seolah tak akan sanggup dicapai kecuali oleh segelintir orang yang berpendidikan tinggi dan mau membaca buku-buku tebal atau betah berjam-jam berada di sebuah laboratorium. Padahal, kejeniusan tokoh-tokoh besar seperti Einstein dkk. hanya terletak pada dua hal, yaitu kemauan untuk berpikir mendalam tentang sebuah fenomena dan berani untuk melihat segala sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan orang pada zamannya. Untuk melakukan kedua hal tersebut, siapapun bisa, tak terkecuali anak-anak kita.

Nah, bagaimana kita membantu anak-anak agar memiliki karakter seperti itu? Kalau pendidikan hanya diartikan sebagai kegiatan menghafal teori, maka kejeniusan memang akan sulit dieksplorasi. Seorang Edison, seperti yang sudah kita tahu, ternyata melakukan ribuan kali percobaan yang gagal sebelum menemukan bola lampu listrik yang hari ini kita nikmati hasilnya. Demikian halnya dengan lahirnya teori Newton, yang konon tercetus saat Newton berada di bawah pohon apel dan melihat buah apel jatuh ke tanah. Begitu juga dengan Wright bersaudara yang berhasil membuat pesawat terbang, tentu mereka telah melakukan banyak percobaan sebelum hal itu terwujud. Semua fakta itu menunjukkan bahwa sesungguhnya, persentuhan dengan dunia nyata adalah jalan paling realistis menuju lahirnya para jenius baru. Membaur dengan dunia nyata akan menjadi pemantik gagasan untuk menyelesaikan berbagai masalah yang ada di dalam kehidupan ini.

Jangan lupa, bahwa para jenius itu sebenarnya bertebaran di mana-mana, meski mungkin tak semua dikenal masyarakat luas. Mereka adalah orang-orang yang berhasil menemukan dan membuat sesuatu yang berguna bagi orang banyak. Kelompok orang semacam itu di antaranya: penemu peniti, penemu jarum jahit, penemu karet gelang, pembuat tungku arang, para petani, para nelayan, dan lain sebagainya, yang tanpa dijuluki sebagai seorang jenius, mereka sesungguhnya para praktisi iilmu pengetahuan di bidangnya masing-masing.

Oleh karena itu, proses pendidikan awal yang penting kita berikan kepada anak-anak adalah memberi anak peluang untuk melihat dan menjalani bermacam-macam pengalaman secara nyata. Landasan teori  tentang semua pengalaman yang mereka temui bisa ditelaah kemudian. Tak ada alasan bagi sekolah-sekolah yang memiliki anggaran minim atau  perlengkapan belajarnya kurang, untuk meniadakan eksperimentasi. Kalau laboratorium statis berupa ruangan sulit terealisasi gara-gara biaya, mengapa tak dicoba laboratorium dunia nyata yang seringkali bisa dijelajahi secara gratis.

Seberapa penting menjadi jenius? Jika pengertian jenius hanyalah mampu menghafal perkalian atau bisa menyelesaikan soal-soal persamaan dan pertidaksamaan, maka biarlah anak-anak tumbuh sesuai kemampuannya; tapi jika jenius yang dimaksudkan itu berarti memiliki kemampuan untuk menyelesaikan masalah, maka betapa pentingnya menjadikan anak-anak kita jenius, karena bukankah esensi hidup adalah menyelesaikan persoalan.

Salam pendidikan!

5 thoughts on “Seberapa Penting Menjadi Jenius

  1. Joe

    Saya setuju dengan artikel di atas.

    Peran orangtua memang punya tantangan tersendiri. Cukup banyak orangtua yang memaksakan kehendak bahwa siswa harus memiliki nilai max. pada pelajaran tertentu – katakanlah Pelajaran Matematika. Jika nilai tidak max. siswa dikatakan bodoh. Anak jadi tertekan dengan tuntutan ini, sehingga pelajaran lainnya jadi “rusak” karena siswa menghabiskan banyak waktu untuk belajar Matematika.

    Celakanya, jika nilai Matematika bisa bagus sedangkan nilai pelajaran lain jelek, anak tetap dikatakan “bodoh”.

    Jadi, apakah anak dengan nilai 10 pada semua mata pelajaran lebih jenius dibandingan anak yang tidak bisa mendapatkan nilai seperti itu?

    Belum lagi orangtua yang mengatakan bahwa “dokter itu lebih pintar (atau jenius) dibandingkan dengan jadi musisi”. Orangtua memaksa anak jadi dokter, padahal bakat anak ada di musik. Apa jadinya jika anak ini masuk Bidang Kedokteran jika dia tidak mau jadi Dokter?

    Menurut saya, yang penting adalah anak bisa berkarya bagi masyarakat. Bukan berkarya bagi orangtua.

    Artikel ini patut direnungkan bagi setiap orangtua dan pendidik.

    Terima kasih

    Reply
  2. widayati

    Terima kasih untuk artikel-artikel yang bermutu.

    Betul bu Maya, yuk kita ajak anak usia dini kita dengan beragam iqra ayat kauniyah. Observadi dan eksplorasi di alam nyata banyak sekali manfaatnya. Pasti membuat kita semua jadi genius. Orang Minang mengatakan, ALAM TAKAMBANG JADI GURU.

    Reply
  3. nanang

    Saya bangga dengan anak saya (saya fikir dia jenius) mampu mencapai nilai di atas rata-rata, dengan umurnya yang di bawah teman sekelas.
    Tapi pada kenyataan sehari-hari, dia tidak bisa mandiri (dibanding anak seumurnya).
    Saya menyadari itu kesalahan kami mendidik. Yang diperlukan sekarang adalah jalan keluar.(Anak saya umur 13 tahun, sekarang kelas 3 SMP)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *